← back to home

Berhutang untuk menunjang gaya hidup



Photo by Caroline Selfors via Unsplash

Postingan ini bukan untuk menghakimi atau memandang sinis, hanya mencoba untuk refleksi, apakah hal ini bisa membahagiakan kita, atau apakah ini baik untuk kehidupan finansial kita, karena kita mungkin sering/pernah lihat orang-orang yang ada di media sosial yang sedang liburan atau memperlihatkan barang-barang bermerek? liburan ke luar negeri dengan hotel yang wah, atau liburan ke tempat yang eksotis, menggunakan jam yang mahal, tas yang mahal, atau sneaker yang mahal.

Lagi-lagi, bukan bermaksud julid, atau menghakimi atas apa yang dibeli, tapi kadang suka bertanya dalam hati, apakah keadaan finansial orang itu itu seperti yang diperlihatkan?

Spoiler, banyak yang tidak.

Banyak yang memaksakan untuk bisa terlihat seperti itu, terlihat kaya dan mampu, dengan satu cara, berhutang, apapun itu bentuknya, dengan meminjam pada orang lain, beli kartu kredit, beli tiket atau menginap di hotel dengan fitur PayLater, yang mana bunga dari kartu kredit dan PayLater bisa lebih dari 20% pertahun.

Kenapa banyak orang yang rela berhutang demi menunjang gaya hidup? padahal jika dipikir secara logis, dengan pendapatan yang sekian, dan biaya gaya hidup yang tinggi tidak masuk dihitungan, tapi orang bisa berpikir tidak logis dan tetap berhutang.

Jeratan gengsi dan iri melihat teman atau orang yang difollow di instagram pergi ke Bali, ke Paris, Maroko, berpikir untuk memaksakan diri dan akhirnya tergoda untuk berhutang demi untuk bisa pergi ke tempat yang dilihat di media sosial.

Bisakah traveling tanpa berhutang?

Tentu bisa, tidak masalah jika memang ingin ke tempat-tempat menarik tersebut, jika mampu, dan logis, banyak kok yang menabung untuk bisa berlibur, ada juga dengan travel hacking, mencari promo-promo yang bisa menekan biaya berlibur, backpacking dengan memilih rute diskon dan tidak bermewah, dan juga jika ingin beli barang yang bermerk dan tentunya harus berkualitas.

Untuk bisa mencapai traveling ke tempat idaman, cara yang bisa dipakai menabung dengan tabungan bunga tinggi atau dengan investasi dengan imbal balik yang lumayan tinggi.

Saat-saat krisis akibat Covid-19 ini, sudah dipastikan menggunakan instrumen saham amat sangat tidak dianjurkan, tidak ada krisis pun, saham tetap instrumen investasi yang berisiko dan tidak akan mendapatkan untung yang cepat.

Reksa dana pasar uang merupakan salah satu instrumen yang bisa dicoba, selain bisa menabung atau membeli unit sedikit-sedikit, nyicil, supaya tercipta portofolio yang solid, dan usahakan membeli produk reksa dana pasar uang itu dari satu manajer investasi saja, ini berkaitan dengan biaya admin dan bank kustodian, jika lebih dari satu, maka fee-nya juga lebih dari satu yang harus kita bayar, jadi pilih yang menurut kita bagus, fee yang masuk akal, dan tetap di situ, terus tambah saldonya.

Reksa dana adalah instrumen investasi yang bebas pajak, maka jika kita mencairkannya tidak ada pajak yang dikenai, dan tidak ada pajak juga setiap bulannya, hanya saja perlu dilihat juga prospektus dan facts dari produknya apakah pencairan cepat (kurang dari 1 tahun) ada penalti atau tidak, jadikan itu sebagai pertimbangan juga untuk memilih produknya.

Tetap bahagia dan positif

Kebahagiaan memang terkadang hal yang absurd, ada orang yang traveling katanya bisa membuat bahagia, tapi ada yang makan indomie bisa membuat orang itu bahagia, bersedekah, berbagi pada sesama juga bisa membuat kita bahagia, intinya kebahagiaan sama pentingnya dengan finansial kita juga. carilah kebahagiaan yang tidak membuat kita bangkrut atau sampai berhutang, karena biasanya akan menyulitkan nanti.


Tags: ngaturduit, personal finance, tabungan, literasi finansial, keuangan, lifestyle

Related Posts