← back to home

Sebelum mencoba investasi di Peer to Peer (P2P) lending



Photo by Skye Studios on Unsplash

Mendapatkan pendapatan sampingan selain dari gaji atau pendapatan bulanan memang menguntungkan, kita bisa lebih cepat ke tujuan finansial yang kita canangkan, dan bisa lebih banyak keleluasaan dalam mengatur keuangan.

Memiliki sumber pendapatan lebih dari satu adalah sesuatu yang fantastis, diidamkan banyak orang.

Pada artikel sebelumnya mengenai pasif income yang tidak banyak menghabiskan waktu, pada poin terakhir disebutkan Peer to Peer lending (P2P Lending, peminjaman gotong royong), yang mana di sini kita berlaku sebagai orang yang meminjamkan uang, bisa terhadap individu atau terhadap instusi, bisa berupa hutang produktif atau konsumtif (tergantung kemana uang itu disalurkan oleh penyedia jasa).

Baca: Pasif income tanpa menghabiskan banyak waktu

Saat ini saya masih dalam fase coba-coba, sambil belajar apa saja yang ada di dunia P2P lending ini, karena tidak mau langsung terjun banyak dan akhirnya ada kesalahan-kesalahan seperti yang saya buat ketika berinvestasi di reksa dana.

Baca: Kesalahan-kesalahan yang pernah pernah lakukan ketika memilih produk reksa dana

Beberapa kriteria yang saya jadikan filter dalam memilih platform-nya, hingga kemana uang tersebut akan disalurkan, dan tentunya risiko-risiko yang terpapar, karena bagaimana pun, ini investasi, selalu ada risiko, dan sebesar apa risiko yang bisa kita terima.

Pastikan platform P2P lending sudah terdaftar dan berizin

Izin ini datang dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan, dulunya Bapepam-LK), OJK mengeluarkan izin untuk P2P Lending ini dalam nama Pendanaan Gotong Royong Online, untuk melihat apakah P2P Lending ini ada di OJK, bisa dilihat di daftar ini data bulan Juni 2020, silakan terus monitor di sini untuk versi terbaru dari fintech yang ada di indonesia, khususnya yang terdaftar dan berizin di OJK.

Tingkat Keberhasian Bayar (TKB90)

Perhatikan persentase TKB90 dari platform penyelenggara P2P tersebut, TKB90 ini singkatnya adalah tingkat keberhasilan penyelenggara fintech P2P lending ini dalam memfasilitasi kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu sampai 90 hari, terhitung sejak jatuh tempo.

Persentase dari TKB90 ini merupakan cerminan dari peminjam yang mengembalikan pembiayaan ke platform P2P tersebut, artinya makin tinggi TKB90, makin lancar aktivitas pinjam meminjam di platform tersebut.

Kemana dana kita disalurkan

Di sini ada perbedaan antara penyaluran dana yang kita investasikan, bisa terhadap individu untuk konsumsi, individu (atau grup) yang memiliki usaha mikro, kecil atau menengah (UMKM), bisa juga disalurkan ke perusahaan, dari peyaluran dana ini bisa perkirakan risiko-risiko yang terpapar, tipe dari platform-platform ini mirip seperti bank, ada yang konvensional, dan ada yang syariah.

Untuk peminjaman ke individu yang bersifat konsumsi, misalkan seperti yang dilakukan oleh AsetKu (AsetKu menyalurkan dana salah satunya ke platform peminjaman AkuLaku), biasanya dana pinjaman digunakan untuk kebutuhan konsumsi, misalkan untuk pembelian barang secara kredit di online shop, risikonya agak lebih tinggi, karena ini semacam KTA (kredit tanpa agunan), orang boleh meminjam, dengan plafon tertentu, biasanya tidak besar.

Untuk peminjaman ke individu atau grup selaku pelaku usaha, pengusaha kecil, atau usaha mikro, dana yang dipinjamkan ke pelaku usaha ini bisa dibilang utang produktif, karena digunakan untuk membangun atau memperbesar usahanya, platform yang menyediakan peminjaman ini salah satunya Amartha, yang mana peminjam bisa memilih ke mana dana yang hendak diinvestasikan ini, di Amartha menganut sistem bagi hasil, karena ini sejatinya lebih dikhususkan untuk usaha mikro, platform lain seperti Akseleran dan Investree juga ada opsi ini.

Untuk peminjaman dana ke perusahaan, selain kita juga bisa memilih terhadap perusahaan mana atau proyek mana perusahaan itu sedang ada pekerjaan, dana tersebut bisa untuk mendukung proyek, ekspansi, atau lainnya. Platform P2P marketplace yang menyediakan akses terhadap peminjaman ini antara lain Akseleran, Investree, Modalku, dan untuk yang syariah, ada ALAMI.

Imbal hasil

Ini bagian yang agak rumit, karena biasanya sebagai investor atau penanam modal, ingin mendapatkan imbal hasil yang tinggi, hanya saja, seperti investasi pada umumnya, selalu ada risiko, baik risiko tidak mendapat untung sama sekali, bahkan sampai risiko gagal bayar.

Meski peminjam (borrower) di platform ini kebanyakan sudah dilakukan penyaringan, tapi risiko tetap ada, biasanya makin tinggi risiko, makin besar imbal hasilnya, tapi ya itu tadi, keputusan kembali ke tangan lender (peminjam).

Photo by Dan Burton on Unsplash

Pemilihan penyaluran ke peminjam

Selain risiko yang disebutkan di atas, terkadang beberapa platform memberikan rating terhadap peminjam, dari A, B, C, rating di sini bergantung pada jenis usaha dari peminjam dan risiko-risiko yang terpapar dalam usahanya, rating ini didapat dari platform, biasanya ada tim yang melakukan rating terhadap usaha-usaha atau proyek dari peminjam ini.

Saya sendiri lebih memilih yang memiliki rating setidaknya B ke atas, dan jika memungkinkan, pilih juga yang ada proteksi, atau juga agunan, biasanya si peminjam menyediakan agunan jika mereka ada masalah dalam pengembalian pinjaman, hal ini tentu menambah rasa aman, baru kemudian memikirkan imbal hasil.

Platform yang saat ini sedang saya pelajari (plus referral jika ada yang tertarik untuk daftar juga)

Dikesempatan nanti akan saya coba review platform P2P-nya, sisi layanan dan juga aplikasinya, fitur didalamnya dan hal-hal lain.


#ngaturduit #personal finance #literasi finansial #investasi #keuangan #menabung #p2p #peer to peer

Related Posts