← back to home

FinFLuencers (Financial Influencers)



Daniel Thomas on Unsplash

Kalau browsing di media sosial, twitter, instagram, bahkan tiktok, atau media lainnya, ada yang dinamakan influencer, biasanya orang-orang ini ada kepentingan bisnis, baik dengan mempromosikan barang, layanan, milik orang lain, atau punya sendiri, dan karena biasanya untuk menjadi influncer ini membutuhkan modal, yakni memiliki pengikut atau follower yang banyak, biasanya hitungan lebih dari 5 -10 ribu.

Influencer ini bisa jadi mempromosikan kosmetik, pakaian, makanan, layanan dan lainnya, ada yang berfokus pada makanan, influencer kuliner, atau kosmetik, kecantikan, beauty influencer.

Tidak akan bahas lebih detil, karena banyak faktor lain yang saya tidak ketahui, hanya saja esensinya tetap sama, influencer akan mencoba mempengaruhi orang lain dengan produk atau ide yang mereka dapatkan, agar orang lain terpengaruh, dengan kekuatan pengaruh yang mereka miliki terhadap followernya di media sosial.

Dengan harapan, mungkin follower akan membeli, teringat, terhadap produk yang dibahas, dan mungkin bisa bahas ini dengan teman-temannya yang lain.

Kata FinFluencers belum begitu umum, influencer kategori ini banyak membahas yang berkaitan dengan finansial, bisa itu menabung, investasi, KPR, saham, reksa dana, produk investasi lain. Bisa juga membahas tips, mungkin juga membahas encouragement, self-help yang berkaitan dengan finansial.

Seperti hal lainnya di dunia, ada yang bagus, ada yang jelek, ada yang bisa diambil ilmunya ada yang cuman ngomong doang, bahkan ada yang cenderung menjerumuskan.

Ambil contoh orang yang ngomong di tiktok, mereka merekomendasikan beli saham A, B, C, pengikutnya yang banyak, dengan kondisi influencer sudah beli saham itu duluan di harga bawah, kemudian pada beli saham itu rame-rame, harga naik, dan bisa saja sesudah naik itu saham harganya, dibanting, sang influencer udah exit duluan, tinggal sang pengikut yang bengong sahamnya nyangkut, kalau ada yang tanya, tinggal jawab, kan ada risiko dalam invevstasi, atau variasi ngeles lainnya.

Kalau ada rekomendasi produk investasi, saham, reksa dana, atau apapun, tetap musti lakukan riset ya, jangan percaya 100%, apalagi hanya dari grup-grup saham dari telegram yang ngasih janji-janji surga, kalau mau untung harap ikut group eksklusif yang berbayar, dinamakan member premium.

Kalau kata teman saya sih, “kalo iya nemuin tambang emas sendiri, ngapain bilang-bilang sama orang lain?”.

Masuk akal, kalo iya orang-orang yang katanya bisa nebak saham akan naik, dan bisa untung kalau ikut member premium, kalau saya sendiri, mendingan buat saya sendiri untungnya, gak akan ngomong ke orang lain.

Tapi tidak juga dipungkiri, aktivitas influencer, dan tingkah laku FOMO, bisa membuat saham menjadi naik, ini dibuktikan dengan saham-saham meme di Amerika, seperti GameStop, atau AMC.

Saham tersebut bisa dibilang gurem, tidak ada potensi untuk bisa naik, cuma karena orang-orang F.O.M.O, dan kebetulan punya uang dari stimulus, banyak yang beli saham itu hingga harga saham itu naik.




Related Posts