← back to home

Ketika melihat grafik kinerja produk investasi reksa dana



Bruno Nascimento on Unsplash

Ketika kita hendak memutuskan untuk membeli satu instrumen investasi, di sini taruhlah reksa dana (bisa instrumen lain juga), pasti yang pertama kita liat ada kinerja produk reksa dana tersebut, kita melihat grafik (chart) dengan kondisi naik, kinerja 1 bulan, 6 bulan, YTD, 1 tahun, naik dan naik.

Hal tersebut memang selalu ditampilkan oleh agen penjual reksa dana didalam aplikasinya, bahkan ada semacam leaderboard, dimana ditampilkan produk mana saja dan dari manajer investasi mana saja yang saat ini sedang bagus kinerjanya, agar calon pembeli merasa ada keuntungan, terpukau dan yang lebih parah terkadang pengguna merasa FOMO (Fear Of Missing Out), jadi harus sekarang juga beli.

Baca: Mengenal lebih jauh terhadap produk reksa dana yang (akan) dibeli, Prospektus dan Fund Fact Sheet

Pembaca pastinya sudah paham bahwa informasi-informasi ini merupakan kinerja dari masa lalu, yang mana tidak menjamin kinerja masa depan seperti apa, tidak ada informasi yang bisa mencerminkan satu produk reksa dana ini akan terus mengikuti record lampaunya, dengan melihat grafik kinerja, saya kadang ”terjebak”.

Kenapa saya sebut “terjebak”? karena meski hal itu bisa menjadi salah satu parameter untuk memilih satu produk, tapi terkadang hal ini menjadikan investor terlalu cepat mengambil keputusan ketika memutuskan membeli produk reksa dana tersebut, saya sendiri pernah jatuh ke dalam kategori ini.

Baca: Kesalahan-kesalahan yang pernah pernah lakukan ketika memilih produk reksa dana

Imbal hasil sekian persen terkadang mengaburkan keputusan, cenderung mengabaikan hal-hal lain, seperti fee, kinerja manajer investasi ke depan, terutama di saat pandemi ini.

Pandemi merupakan hal yang buruk bagi ekonomi, tetapi juga menjadi suatu penyaring, manajer investasi mana yang sanggup bertahan, atau bahkan memberikan imbal hasil, karena di saat bull market, semua orang bisa menjadi benar, karena kinerja dibantu oleh keadaan pasar, dan pada saat resesi, semua menjadi kacau, kinerja menurun, dan susah sekali untuk naik, apalagi rebound kembali ke keadaan semula.

Karena ini berangkat dari pengalaman, dengan memiliki beberapa produk reksa dana, dalam hal ini saham, produk dari satu MI ini sama sekali tidak menunjukkan kinerja yang memuaskan, ketika pandemi datang, hampir semua produk reksa dana turun, dan beberapa bulan kemudian, banyak yang bangkit lagi, bahkan ada yang sampai melampaui value sebelumnya, sedangkan produk yang satu ini tidak.

Produk ini saya pilih karena hanya melihat kinerja masa lalu, tanpa melakukan riset lebih mendalam lagi, bahkan karena dipikir kinerja bagus banget, management fee yang 3% (ini tinggi) saya abaikan, dan hasilnya sekarang reksa dana ini hanya saya diamkan.

Dengan selalu riset, membaca, belajar, selalu saring informasi, usahakan pilih produk dari MI yang besar, atau produk reksa dana yang dikeluarkan oleh Asset Management Bank, meski ini tidak menjadi 100%, tapi beberapa produk reksa dana yang dikeluarkan MI bank sempat turun juga, tapi sanggup bertahan, bahkan naik.

Baca: Pilih mana? investasi dengan obligasi langsung atau membeli reksa dana pendapatan tetap?

Karena, dalam opini saya, membeli atau menabung di reksa dana merupakan hal yang rutin, setiap bulan, atau setiap kali ada uang lebih, jadi jika sudah memilih produk reksa dana (tergantung tujuan keuangan masing-masing) yang akan/sudah dibeli, sebisa mungkin tetap didalam produk tersebut, terus menambah unit yang dipunyai, jadi pemilihan awal amat menentukan.

Hal ini saya pikir bisa berlaku untuk investasi jenis lain, bisa itu saham, emas, dan lain-lain, bahkan properti, bisa juga masuk ke dalam ”jebakan” ini, karena pasar itu irasional, tidak ada yang tahu pasti hendak kemana.

Dan yang pasti berinvestasi akan ada selalu risiko yang menyertai.


#investasi #saham #reksadana #reksa dana

Related Posts