← back to home

Menentukan alokasi aset makro dan mikro dalam menyusun portofolio



Photo by Aperture Vintage via Unsplash

Postingan sebelumnya membahas sedikit mengenai alokasi aset, strategi dan lainnya, kali ini mencoba membahas mengenai aset makro dan mikro, lagi-lagi, ini adalah cara saya dalam menyusun alokasi aset dalam portofolio, untuk membangun alokasi aset ini memang membutuhkan waktu (dan bisa berubah seiring waktu), tidak ada formula yang sama untuk semua orang, jadi setidaknya cara ini sejauh ini berjalan di saya sendiri.

Dalam menentukan aset apa saja dalam portofolio kita kembali lagi ke selera risiko kita sendiri dan kemampuan untuk mengatur cashflow.

Untuk saya yang milenial tua, jika ada pilihan untuk aman, lebih baik main aman, hanya saja, pada tahapan ini, saya masih dalam tahap akumulasi, ada beberapa tahun yang bisa dibilang saya terlewatkan, jadi sebisa mungkin agresif, dan meninggikan toleransi diri saya terhadap risiko yang ada di pasar.

Alokasi makro

Dalam melakukan pengalokasian secara makro, saya membagi dalam 3 alokasi,

  • Saham 70%
  • Cash 20%
  • Obligasi 10%

Didalam alokasi makro ini, sengaja menggunakan porsi yang besar untuk saham, karena setelah dihitung-hitung, setidaknya tidak akan ada biaya yang sangat besar dalam 5 tahun ke depan (mudah-mudahan), selain biaya sekolah anak.

Untuk yang umurnya lebih, misalkan 60 ke atas, sepertinya, jika terlalu banyak invest di saham yang memiliki risiko yang lebih tinggi, karena volatilitas dari pasar, bisa jadi ketika membutuhkan dan hendak dilikuidasi, kalau pasar sedang naik kita bisa untng, tapi kalau pasar sedang turun, kita akan menjual secara rugi posisi kita. Mungkin untuk lebih aman, posisi cash dan obligasi bisa lebih besar, setidaknya itu rencana saya nanti.

Dalam alokasi makro ini, lebih mencerminkan tujuan keuangan saya, dan dengan niatan untuk mengejar waktu yang tertinggal, tujuan keuangan dan selera risiko tiap orang berbeda, jadi, silakan susun sendiri ya!.

Alokasi Mikro

Dari alokasi makro di atas, yang dilakukan selanjutnya adalah, melakukan penyesuain sesuai dengan komposisinya, dari alokasi saham yang 70%, saya buka akun broker yang memungkinkan saya berinvestasi saham secara langsung dan produk yang berbasis saham.

Saham

  • Saham
  • ETF
  • Reksa dana saham

Dalam pemilihan alokasi mikro kategori saham, ada saham yang memang sengaja dibeli secara mandiri, melalui aplikasi broker, istilahnya, stock picking, saya invest disaham perusahaan yang saya pikir akan memiliki imbal hasil yang bagus di masa mendatang (saat ini, masih sesuai dengan rencana).

Kemudian, untuk memiliki ekspos terhadap saham yang lebih banyak, dan juga diversifikasi, maka saya juga berinvestasi di produk efek saham dalam bentuk ETF index dan juga reksa dana saham index.

Baca: Apa itu Indeks saham

ETF dan reksa dana saham, memiliki karakteristik yang agak mirip, salah satu bedanya, ETF bisa diperdagangkan di jam bursa (ide untuk postingan selanjutnya tentang ETF) dan bisa mendapatkan harga saat itu juga, sedangkan RD saham, akan dihitung setelah selesai waktu bursa.

Dengan memiliki ETF dan RD Saham, secara tidak langsung saya memiliki saham yang tidak saya miliki di dalam portofolio stock picking saya (atau mungkin berisisan), favorit indeks yang diikuti adalah IDX30, IDX High Dividend 20 dan MSCI yang mana konstituen emiten didalamnya diikut.

Cash atau setara

  • Deposito/Tabungan bunga tinggi
  • Reksa dana pasar uang

Ini berlaku juga sebagai dana darurat, dan tabungan, karena mungkin saja jika kondisi memungkinkan, saya akan membutuhkan dana segar, tapi gak mau juga hanya mendapatkan bunga yang kecil, biasanya tabungan bunya berkisar 0,5 - 1,5% p.a, ini tentunya terlalu kecil.

Dengan menyimpan di high yield savings, saat ini ada bank yang menawarkan 4% p.a bunga, saya simpan di sana, dan juga menyimpan di dalam bentuk reksa dana pasar uang.

Tabungan juga saya gunakan untuk melakukan balancing dan hedging dari risiko yang ada di saham, jika imbal hasil saham turun, setidaknya, tabungan memiliki imbal hasil yang pasti berapa persen setahun (imbal hasil selalu positif), dan bank biasanya tidak setiap bulan mengganti suku bunganya.

Obligasi

Saya lebih memilih membeli reksa dana obligasi/Pendapatan Tetap (RDPT) dibanding membeli obligasi secara langsung, karena alasan kepraktisan, dan juga lebih mudah dikelola.



Dengan dana investasi yang kecil, bisa membeli obligasi dalam bentuk produk reksa dana, jadi barrier entry-nya lebih rendah, daripada membeli langsung obligasi, baik di pasar primer atau sekunder, dan juga reksa dana obligasi memungkinkan untuk memiliki obligasi dari perusahaan-perusahaan yang memang menjual surat utang, yang biasanya memiliki kupon yang lebih besar yang terkadang untuk investor DIY ritel seperti saya sulit untuk membelinya karena akses terbatas, atau dana investasi tidak cukup besar.

Jika dari aset yang terdapat direksa dana obligasi itu membayarkan kuponnya, manajer investasi biasanya akan memasuk dana dari kupon tersebut ke dalam nilai aktiva bersih-nya (NAB) dari produk tersebut.

Reksa dana obligasi yang dipilih juga merupakan reksa dana indeks obligasi, yang aset didalamnya mengacu pada satu indeks obligasi, dalam kasus saya, saya membeli RDPT index yang berisi obligasi pemerintah.

Obligasi juga berlaku sebagai hedging untuk alokasi investasi saham, seperti RD pasar uang atau tabungan.




Related Posts