← back to home

(masih) belajar mengatur emosi ketika berinvestasi di saham



Photo by Sean Stratton on Unsplash

Berinvestasi sebagai kata kerja, tidak melulu mengenai melakukan aktivitas menanamkan modal, menanamkan uang kita di suatu intsrumen investasi, dengan harapan akan mendapatkan keuntungan, tetapi ketika menginvestasikan dana, kita juga menginvestasikan perasaan, emosi, mental energi, hal ini bisa berimbas pada ketenangan jiwa(!) dan juga kewarasan berpikir.

Berlebihan? mungkin, tapi perlu diingat, yang kita investasikan adalah uang kita, uang yang didapat dari hasil bekerja.

Uang mungkin “mudah” di-manage, tapi perasaan, emosi lebih sulit, mental energi yang terkuras, karena hal ini bisa meninggalkan bekas, mungkin ada yang mengalaminya ketika pandemi menerpa ekonomi pada maret 2020, kita ambil contoh di pasar saham, karena datanya paling mudah didapat.

IDX Chart

Dari chart IHSG di atas, ketika market menukik, coba posisikan diri ketika (atau mengalami) kita mulai investasi dari tahun 2018 aja misalkan, ketika pasar cenderung optimistis, seiring waktu bisa mencapai level di atas 6500, portofolio ikut hijau, lalu pandemi datang, dan portofolio berjatuhan bisa lebih dari 50%, melihat drop seperti itu bagaimana perasaan kita?

Banyak yang menjadi trauma, uang yang capek dikumpulkan sejak lama kemudian diinvestasikan “hilang” setengahnya atau bahkan lebih, mungkin juga ada yang pas bulan maret itu hendak merealisasikan untung dengan menjual portofolio karena sudah untung atau memang mau cuti liburan dan untung dari saham dialokasikan untuk biaya liburan, sekolah anak, dan lain-lain, tapi ternyata pasar berkata lain, dan yang tadinya untung langsung jeblok.

Diversifikasi saham

Dengan pasar yang bisa jadi tidak menentu, dengan memiliki saham yang berbeda-beda, terutama berbeda sektor, hal ini bisa meminimalisir risiko portofolio saham kita turun yang ada disektor yang sedang turun ini, dan mungkin kita bisa lebih tenang sedikit ya.

Ini terdengar sangat klise, jangan simpan banyak telur dalam satu keranjang, tapi pepatah ini ada benarnya, jika mengacu pada kejadian pandemi, sektor kesehatan menjadi primadona, jika kita memiliki saham di sektor ini pada waktu itu, setidaknya, kerugian kita pada saat itu diobati dengan saham dari sektor kesehatan.

Kembali ke tujuan finansial

Kalau sedang tidak menentu, lihat lagi tujuan finansial kita, kita tidak hidup hanya pada saat ini saja, karena tujuan kita adalah jangka panjang, yang mana kita melakukan investasi untuk sekolah anak misalkan, untuk pensiun atau tujuan-tujuan lain yang bukan dalam jangka pendek.

Jika memang dirasa dengan investasi saham antara tujuan dan ekspektasi imbal hasil yang diinginkan dalam waktu pendek tidak sama, bahkan cenderung merugi, mungkin perlu dilihat lagi, apakah cocok saham untuk jangka waktu yang dicanangkan? jika tidak, apakah lebih baik pindah ke aset lain? deposito atau obligasi misalkan? mungkin tidak akan sebesar saham imbal hasilnya, tetapi dengan menyimpan di deposito kita bisa tidur lebih nyenyak dan bisa mengakses dana tersebut kapan saja.

Sebaliknya, jika tujuan saham itu untuk jangka panjang, jangan terlalu dipusingkan, karena investasi membutuhkan waktu yang panjang, dengan harapan imbal hasilnya juga besar, dengan keadaan pasar yang sedang “merah”, bisa jadi ini kesempatan untuk beli, karena saham-saham sedang diskon.

Jangan ngecek portofolio terus

Demi kesehatan jiwa dan perasaan, lebih baik jangan sering-sering membuka aplikasi broker, jangan perlakukan seperti media sosial, yang biasanya kalo dibuka selalu ada update baru dari orang yang kita ikuti.

Perasaan kita akan nelangsa kalau melihat porto sedang turun dan merah, saya tau perasaannya, dan kalau sedang hijau bisa jadi berseri-seri, atau malah sedikit kecewa, dikira hijaunya akan menyentuh angka yang diharapkan, tapi ternyata hanya sedikit, hal ini bisa membuat pikiran kita pusing sendiri, dan malah tidak sehat.

Dan banyak sekali ikatan perasaan kita terhadap portofolio yang kita punya.




Related Posts