← back to home

Mengubah keinginan menjadi kebutuhan



Photo by Anna Kumpan via Unsplash

Artikel ini bukan menjelaskan cara bagaimana mengubah keinginan menjadi kebutuhan dan bisa bebas tanpa masalah, tapi ini mengenai tendensi kita sebagai manusia yang bisa melakukan apapun di kepala kita termasuk membenarkan suatu hal, meski itu tidak benar dengan berbagai macam pembenaran.

Tendensi manusia untuk permisif, membuat justifikasi akan suatu rencana/keputusan, dan merasa berhak atas sesuatu, kita pintar dalam melakukan itu, saya tidak luput dari itu.

Baca: Buku Keuangan Berbasis Perilaku

Hal di atas bisa menjadi satu kekurangan, atau pun bisa menjadi kelebihan, kita mulai dengan kekurangan dulu.

Kekurangan

Pada saat kita melihat sesuatu, atau berpikir tentang suatu barang, keputusan beli atau tidak, saya ambil contoh yang baru saja terjadi, mengenai earphone dengan fitur bluetooth yang baru saya beli

Kenapa earphonenya? gak ada apa-apa sih, cuman ketika mau beli, sempat ada perdebatan di kepala, kan udah punya 2 earphone yang lain dengan fitur mirip, sama-sama bluetooth, batre yang oke juga, tapi kemudian muncul pembenaran-pembenaran untuk membeli earphone baru, “kan yang itu kurang enak kalo dipasang lama”, “kan kalo ada backup earphone bisa lebih enak ganti-gantinya kalo yang lain habis batrei, dan banyak lagi pembenaran-pembenaran yang bisa dilakukan

Akhirnya? saya beli juga itu earphone.

Kelebihan

Tendensi untuk mengubah dan menjustifikasi akan suatu hal bisa dijadikan hal yang positif (relatif), misalkan dengan mengubah kebiasaan ketika menabung, “ingin menambah rata-rata menabung dari yang biasa sekian, ditambah menjadi sekian”, dan tambahkan justifikasi-justifikasi yang sama untuk membenarkan alasan-alasan kenapa harus menambah dana tabungan lebih dari biasanya.

Untuk investasi juga mirip, selain melakukan otomasi agar aktivitas investasi bisa lepas dari emosi dan perasaan, kalo misalkan ingin menambah jumlah kontribusi investasi dari yang sudah dilakukan, lakukan justifikasi atas keputusan itu.

Sulit?

Untuk yang belum terbiasa melakukan justifikasi terhadap kelebihan tersebut (saya juga masih belum terbiasa), akan menemukan saat-saat yang sulit dalam mengambil keputusan dan membuat justifikasi.

Akan ada saja di kepala yang ngomong “lu dah kerja, masa duitnya ga dinikmatin?”, “masa untuk diri sendiri aja pelit amat?”.

Menabung, berinvestasi di masa kini adalah untuk membeli waktu di masa depan agar tidak perlu bekerja, atau tidak perlu bekerja lebih berat di saat umur kita mungkin sudah tidak produktif lagi.




Related Posts