← back to home

Investasi ofensif dan defensif



Photo by Boban Simonovski via Unsplash

Bulan Juli, sudah lebih dari setengah tahun, sudah mulai berinvestasi tahun ini? kalo belum, ayo mulai, seperti peribahasa, saat yang tepat investasi itu kemarin, saat tepat yang kedua adalah hari ini, tidak ada kata terlambat untuk investasi.

Baca: Menjadi Do It Yourself (D.I.Y) Investor (Investor Swakriya?)

Bisa dimulai dengan investasi yang ringan dulu, kenali produknya, reksa dana pasar uang bisa jadi pilihan pertama.

Dan seiring waktu bisa bertambah ke produk-produk lain yang mungkin lebih rumit, dan bisa investasi bisa disesuaikan dengan jangka waktu yang dimiliki, jangka pendek atau jangka panjang.

Baca: Mencari dan berinvestasi di produk reksa dana yang kinerjanya bagus

Investasi di hal yang bisa kita kontrol, tapi ada hal yang tidak bisa kita kontrol, bahasan ini mungkin bikin kita ketok-ketok meja, dan agak-agak dark, tapi mau ga mau, hal ini harus kita bahas juga, karena bisa jadi ada orang yang bergantung pada kita, bergantung pada penghasilan yang kita dapat, jika kita berlaku sebagai breadwinner di keluarga.

Investasi Ofensif

Dengan melakukan investasi, menabung, punya akun dan aktif kontribusi untuk pensiun nanti dengan BPJS JHT atau DPLK, merupakan hal aktif yang bisa kita lakukan dan bisa kita kontrol.

Baca: Mengenai BPJSTK JHT, PU dan BPU (lagi), dan kontribusi didalamnya

Kita bisa kontrol berapa banyak yang bisa kita kontribusikan, berapa yang bisa kita tabung, dan juga berapa yang kita bisa investasikan.

Baca: Salah satu tempat investasi yang jarang dilihat, investasi dengan BPJSTK JHT

Kita secara aktif dan agresif melakukan hal tersebut di atas.

Aktif dan agresif merupakan definisi ofensif, kita aktif “menyerang” kebutuhan kita untuk hari tua nanti, supaya kehidupan tua nanti lebih mudah, dan mudah-mudahan lebih makmur, tentunya ini cita-cita banyak orang, kehidupan kita bisa terjamin.

Tapi ada hal yang tidak bisa kita kontrol sepenuhnya.

Investasi Defensif

Hidup pastinya ada dinamikanya, ada naik, turunnya, ada bahagia sedih, dan kesehatan termasuk didalamnya.

Apa yang akan terjadi dimasa depan terhadap diri kita seperti kesehatan, sakit, kematian (getting dark) adalah hal yang tidak bisa kita kontrol, tidak ada yang tahu ke depannya bagaimana.

Untuk kesehatan, ada investasi yang bisa kita lakukan dan kontrol, dengan olah raga (iya, ini saya kurang nih), makan makanan yang sehat, tidur yang cukup, minum yang cukup, tidak merokok dan hal lain yang bisa kita lakukan.

Untuk hal yang tidak bisa kita kontrol, misalkan kematian (yak ketok meja), kecelakaan (ketok2 lagi), sakit, yang membuat kita tidak bisa melakukan pekerjaan seperti biasa, yang bisa jadi mempengaruhi penghasilan, atau juga malah menguras tabungan yang sudah kita kumpulkan, atau bahkan (dark) kematian, yang menjadikan orang yang bergantung kepada kita tidak memiliki apa-apa untuk hidup.

Tema asuransi sepertinya tidak terlalu populer di dalam bahasan personal finance, banyak stigma yang ada di sini, misalkan ada yang berpendapat kalo ini seperti mengundang hal jelek, rugi, dan lain-lain.

Asuransi kesehatan

Kesehatan adalah hal yang mahal, pepatah mengatakan, manusia memiliki banyak keinginan, tapi orang yang sedang sakit hanya punya satu keinginan, bisa sehat.

Apalagi disaat pandemi ini, banyak hal yang tidak diinginkan, sakit disaat pandemi ini bisa menjadi sangat mahal, kalau kita amit-amitnya sampai sakit, jika memiliki asuransi, setidaknya tidak akan mengambil tabungan atau lebih parahnya aset investasi.

Membuat asuransi kesehatan bisa dimulai dengan membuat BPJS KES, yang disesuaikan dengan faskes yang terdekat dengan domisili.

Untuk yang mampu atau perusahaannya menyediakan, bisa membuka juga di provider asuransi kesehatan lainnya, banyak pilihan untuk yang swasta, beserta benefit-benefit yang ada dimasing-masing produk.

Beberapa orang ada yang berpikir kalau asuransi kesehatan itu rugi kalo ga dipakai, ini pemikiran yang umum, kita biasa membeli sesuatu dan berharap ada sesuatu yang diberikan ke kita, untuk asuransi memang kita tetap bayar premi setiap waktunya, dipakai atau tidak manfaatnya, saya sendiri berharap tidak memakainya, meski tetap bayar.

Asuransi adalah industri yang berbeda dengan yang lain, meski ada juga aturan dan lainnya.

Anggap kita membeli polis asuransi kesehatan ini sebagai bentuk investasi, investasi defensif, kalau terjadi apa-apa, kita bisa gunakan, kalau tidak, ya sudah, kita bersyukur diberikan kesehatan.

Asuransi jiwa berjangka

Ini mulai makin gelap nih…, saya nulisnya aja musti pause dulu.

okay, kita mulai….

Sebagai breadwinner, seseorang yang memiliki penghasilan dan biasanya ada yang bergantung kepada penghasilan tersebut, terlepas siapa breadwinnernya, mau istri, suami, atau dua-duanya, mungkin ada saja yang bergantung pada kita, tergantung keadaan masing-masing.

Jika terjadi apa-apa, amit-amitnya sampai meninggal dunia, tabungan dan investasi mungkin belum atau tidak ingin dipecah dulu atau belum bisa dicairkan, nah asuransi jiwa ini, gunanya untuk menggantikan penghasilan yang sebelumnya ada dari breadwinner.

Setidaknya untuk setahun, orang yang ditinggalkan bisa mendapatkan manfaat berupa uang pertanggungan (UP) dari polis asuransi jiwa ini.

Untuk jenis asuransi jiwa, banyak artikel dan ahli yang menyarankan untuk mengambil Term Life (berjangkang) daripada whole life (seumur hidup), selain Term Life ini tidak mengikat seumur hidup, kita bisa mengganti provider lain jika dirasa kurang bagus atau uang pertanggungan dirasa sudah tidak memenuhi kebutuhan, dan kita bisa ambil lebih dari satu, tinggal lihat saja manfaat UP yang bisa didapat oleh pemilik polis.

Asuransi jiwa term life, biaya tanggungan tergantung dari premi yang dibayarkan, jadi besarnya proteksi yang didapat tergantung pada premi, berapakah jumlah pertanggungan yang tepat? ini kembali ke masing-masing, rumus paling gampang mungkin ambil angka pertanggungan yang terdekat dengan jumlah kebutuhan selama setahun, jika memiliki uang lebih, bisa juga membeli polis yang memiliki uang pertanggungan yang tinggi juga.

Asuransi lain

Asuransi tentunya tidak terbatas hanya 2 di atas, jika memungkinkan, bisa mengambil asuransi lain, bisa itu asuransi kendaraan, rumah, dan lainnya, tentunya melihat kondisi keuangan sendiri bagaimana.

Investasi defensif, sejatinya untuk bisa mengamankan aset kita yang lain, bagaimana sebisa mungkin kita lindungi, dan juga untuk mengamankan kesejahteraan orang-orang yang kita sayangi dan bergantung pada kita.




Related Posts