← back to home

Memilih saham dengan 'mencontek', Reksa dana/ETF dari manajer investasi



Photo by Thomas Millot on Unsplash

Pernah denger nama BNP Paribas, BNI Asset Management, Schroder, atau Avrist? ini adalah institusi investasi, biasanya memiliki produk-produk investasi yang diatur oleh manajer investasi yang ada didalam institusi tersebut, dan masih banyak institusi/perusahaan investasi lain.

Produk-produk dari manajer investasi ini berbagai macam, berbagai kelas aset untuk tujuan dan memiliki risiko yang berbeda-beda, dan artikel ini akan memfokuskan manajer investasi dengan konstituen aset berupa saham, atau mayoritas saham.

Kita ambil contoh dengan produk yang dikeluarkan oleh Schroder, Schroder 90 Plus Equity Fund (saya ga punya posisi dalam portofolio saya produk ini), di dalam factsheet terdapat saham-saham apa saja yang menjadi konstituennya.

Dan untuk ETF kita ambil contoh XBNI keluaran BNI Asset Management.

Pergerakan Harga

Institusi ini memiliki dana yang besar, dana ini bisa jadi dari partner, bisa jadi dari investor yang membeli produk yang disediakan oleh institusi ini, mereka bergerak di bursa saham dengan dana besar dan memiliki kapasitas untuk membentuk harga dari suatu saham.

Seperti yang kita tahu, sederhananya harga saham terbentuk karena ada supply dan demand, jika ada orang yang berani membayar lebih tinggi dari harga yang ditawarkan, maka harga akan naik seiring berjalannya pasar, begitu juga sebaliknya jika harga turun, karena ada orang yang mau menjual saham tersebut dengan harga yang lebih rendah, begitu terus siklusnya.

Dari produk investasi, misalkan kita ambil produk reksa dana atau produk ETF, yang mana masing-masing produk ini memiliki aset di dalamnya, tergantung dari prospektus, ada yang hitungannya 80% saham dan 20% kas atau sejenis, dan konsentrasi kelas aset lainnya, lagi-lagi, tergantung dari bagaimana kontrak investasi itu dibuat, dan bagaimana pembagiannya yang diatur oleh regulasi.

Dari produk investasi reksa dana saham, atau ETF, ada saham-saham yang dijadikan konstituen sebagai underlying asset yang ada didalamnya, saham-saham ini dipilih oleh manajer investasi, baik dengan memilih satu persatu saham yang jadi konstituen (stock picking), atau menggunakan indeks acuan seperti indeks yang sudah ada, seperti IDX30, LQ45 atau indeks lain yang jadi acuan, dan saham-saham yang ada didalamnya mengikuti konstituen yang ada juga di dalam indeks tersebut.

Mengikuti arus dan pergerakan pemain besar

Herding effect tidak berarti selalu jelek konotasinya, terutama untuk yang memanfaatkan momentum, meski ini tetap saja ada risikonya.

Jadi mudahnya, ketika kita memilih saham sendiri, kita copy, contek, saham apa saja yang dipilih oleh manajer investasi dari satu produk reksa dana saham/ETF, biasanya tiap bulan ada laporannya, satu produk reksa dana ini pegang saham apa saja, dan ditampilkan dalam top 10 saham yang menjadi pegangan produk tersebut, dan manajer investasi wajib melaporkan saham-saham pegangannya ke regulator, meski tidak wajib melaporkannya secara menyeluruh isi dapurnya kepada khalayak, tapi setidaknya laporan wajib ada contekannya.

Institusi investasi biasanya memiliki sumber sendiri, memiliki data yang lengkap dan juga informasi yang mungkin investor retail tidak punya akses, dan bisa jadi informasi-informasi yang sifatnya tertutup mereka bisa tahu, mungkin.

Semua aktivitas riset, jual beli jika ada, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya yang berkaitan dengan aktivitas di pasar bursa, sudah diwakilkan, dilakukan oleh manajer investasi, kita sebagai investor tidak perlu pusing ngurusin itu.

Dijamin akan untung?

Well, tidak ada yang pasti, karena tidak ada yang tahu pergerakan pasar, atau harga suatu saham akan kemana, tapi yang pasti, seiring dengan waktu, biasanya saham cenderung naik, tinggal berapa lama kita sanggup menahan jika terjadi drop, mungkin 30 - 50% atau ekstremnya bisa jadi sampai 70%, dan inipun bisa jadi berbeda antar saham.

Karena ini balik lagi ke nature-nya investasi, tidak ada yang bisa menjamin investasi akan untung, tetapi yang pasti menjadi kerugian adalah jika tidak ikut serta di dalam investasi.

Dan memilih saham-saham dari produk reksa dana dan ETF ini tentunya dengan melihat juga kinerja dari produk investasi tersebut, dan juga kinerja dari saham-saham yang menjadi konstituennya.




Related Posts