← back to home

The Psychology of Money



Photo by Seputar Finansial

Saya memiliki ketertarikan membaca literatur yang berhubungan dengan perilaku keuangan (Behavioral Finance), karena membuka mata mengenai bagaimana manusia berperilaku ketika berhadapan dengan yang ada hubungannya dengan uang.

Ketika ada uang atau ketika tidak ada uang, dan ini biasanya kembali ke nature/dasar orang tersebut tersebut, dan biasanya lingkungan mempengaruhi bagaimana orang bereaksi terhadap masalah (ada atau tidak ada) keuangan.

Dan buku The Psychology of Money membahas hal tersebut, seperti beberapa buku yang pernah saya baca dengan tema yang sama sebelumnya.

Dalam buku The Psychology of Money ini, yang ditulis oleh Morgan Housel, yang merupakan penulis di salah satu blog yang saya sering baca, yaitu di collaborative fund.

Buku ini bercerita tentang sejarah hidup orang yang berkaitan dengan uang, dan kita bisa mengambil banyak sekali pelajarannya, juga sejarah yang berkaitan dengan keuangan yang terjadi di amerika, dari kejatuhan pasar tahun 1929 sampai covid-19 dibahas, dan bagaimana pasar bereaksi dengan semua itu dan bagaimana investor berlaku ketika hal tersebut terjadi.

Semua itu dirangkum dalam bab-bab yang mudah dimengerti, tidak mesti berurutan membacanya, bisa lompat ke bab lain tanpa perlu konteks dari bab lainnya.

Saya sendiri menikmati tulisannya, pertama membaca edisi yang berbahasa inggris, dan kemudian baru-baru ini penerbit Baca mendapatkan lisensi untuk menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, jadinya beli juga yang versi bahasa Indonesia, yang esensinya tidak jauh beda dengan yang bentuk bahasa inggris.

Satu kalimat yang saya suka, “Mengelola keuangan dengan baik, tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kita, tetapi lebih banyak berhubungan dengan perillaku kita”, benar?

Hal yang menurut saya benar sekali, tentunya faktor lain adalah bagaimana kita mencari uang sebagai sumber semuanya.

Photo by CHUTTERSNAP

Banyak cerita mengenai orang jatuh bangkrut ketika hidup dengan terlalu boros, sibuk membandingkan diri sendiri dengan orang lain, apa yang orang lain punya, kita juga harus, dan itu terus meningkat, tetapi pemasukan tidak, besar pasak daripada tiang.

Dan juga mengenai berita bagaimana orang-orang mengalami kerugian yang sangat besar dalam hal yang mereka pikir hal tersebut merupakan investasi, yang dengan janji-janji akan memberikan imbal hasil hingga 50% perbulan dari dana yang diinvestasikan, untuk yang berpikir pendek dan serakah, mungkin ini hal yang menarik, meski secara logika ini hampir mustahil, tapi banyak yang terkecoh, dan banyak orang yang memiliki pendidikan tinggi kena.

Membangun kekayaan memang sangat membutuhkan waktu dan kesabaran, dan juga bagaimana pandangan kita terhadap hidup dan keuangan.




Related Posts