saham, opini,

Harus benar dua kali

Deden Fathurahman Deden Fathurahman Follow Dec 06, 2021 · 2 mins read

Ada yang ikutan group-group whatsapp atau Telegram yang isinya informasi berupa sinyal atau tips saham yang akan naik? beberapa group malah sampai membuat groupnya berbayar/premium, dengan klaim bisa cuan terus.

Apakah grup-grup ini benar bisa menghasilkan untung? tidak ada yang tahu.

Baca: Pengalaman melihat dan mengalami, IPO perusahaan-perusahaan di Indonesia, BUKA, MTEL

Semua biasanya akan menuliskan “disclaimer ON ya!” di pesan rekomendasi saham yang mereka rekomendasikan, karena mereka ini butuh perlindungan, kalau saham yang direkomendasikan turun, tinggal ngeles aja itu diluar kuasa, atau ada bandar yang lebih besar, dan alasan lainnya.

Tapi kalo benar naik dan untung, wow!, mereka akan mengaku karena merekalah saham itu naik, atau dia bisa menebak saham yang akan naik.

Baca: Memilih saham dengan ‘mencontek’, Reksa dana/ETF dari manajer investasi

Terlepas dari bahasan grup-grup gurem itu, kita sebagai investor jangka pendek atau panjang di saham, trader, swinger, apapun. Untuk bisa mendapatkan untung, kita harus benar dua kali, benar (entry termurah) harga kita beli, dan benar pas harga ketika saham yang kita jual.

Baca: FinFLuencers (Financial Influencers)

Saham turun itu bisa diukur, dalam artian jika saham tersebut saat ini 2000, angka turun maksimal sudah ketahuan ujung turunnya bisa sampai berapa, sampai level Rp50 misalkan, tapi untuk naik, tidak terbatas, bisa saja akan terus naik.

Kita masuk di harga yang “benar” misalkan di angka 1000, dan saham naik ke 1500 dalam beberapa waktu kedepan, terus dijual, untung dong? iya, tapi terus saham naik lagi sampai 3000, dan terus naik, nyesel gak sudah lepas saham itu? ini yang dimaksud “benar” ketika jual.

Skenario lain, beli 1000, naik ke 1500, jual, terus naik ke 1600, tergiur karena pasti akan terus naik, beli lagi saham itu di angka 1650, terus dibanting lagi ke level harga di bawah 900.

Faktor efek Dunning-Kruger sangat besar di dalam dunia saham, kita beli di 1000, naik, jual 1500, terus saham memang jadi turun sesudah kita jual, banyak yang merasa jenius, bisa tau kapan harus exit, padahal itu hanya keberuntungan.

Poinnya, tidak ada yang mudah, tidak ada yang tahu soal saham, pasar pada umumnya akan mengarah kemana, untuk bisa tahu saham apa yang berpotensi naik, mungkin bisa saja, tapi untuk tahu kapan harus exit, sulit menebaknya.

Keberuntungan memainkan peran yang besar dalam investasi, terutama saham, dan keberuntungan untuk bisa benar 2 kali adalah hal yang langka.

Join Newsletter
Get the latest news right in your inbox. We never spam!
Deden Fathurahman
Written by Deden Fathurahman Follow
Writer at Seputar Finansial, engineer, love technology and geeking about finance, intertwine both world.
Read next

Berlubang

Baru-baru ini saya mendapatkan musibah, handphone yang saya gunakan, yang mana handphone ini memang agak sulit mendapatkannya, membel...

In opini, Sep 22, 2022