← back to home

Memiliki akun broker lebih dari satu?



Photo by Paulius Dragunas on Unsplash

Pertama, iya, boleh, kita boleh memiliki akun broker lebih dari satu, kata broker di sini saya gunakan sebagai pengganti untuk perusahaan yang berwenang untuk membuka akun efek atas nama pengguna, jadi bisa jadi broker untuk jual beli saham, atau untuk membeli reksa dana, membeli obligasi, atau produk efek lainnya.

Membuka akun broker hampir sama dengan membuka akun di bank, yang harus disiapkan seperti biasa, KTP, ada beberapa yang membutuhkan NPWP, dan juga buku tabungan fisik, jadi tiap perusahaan broker bisa berbeda.

Sudah mengenai akunnya, sekarang kita bahas apakah merepotkan atau berguna memiliki akun broker lebih dari satu?

Jawaban paling gampang, tergantung, hehe.., tapi jawaban ini adalah pengalaman saya sendiri, jawaban singkatnya, menurut saya ada gunanya, saya coba jabarkan, tapi tiap orang bisa berbeda.

Kelebihan

Dengan memiliki akun broker lebih dari satu, saya bisa mengatur portofolio yang sesuai dengan tujuan finansial saya, jangka pendek atau panjang, dan untuk akun broker saham, saya bisa memisahkan akun untuk ”iseng” trading, atau memang untuk tujuan investasi jangka panjang.

Bisa memilih broker mana yang memiliki fee yang lebih rendah dari broker lain misalkan untuk trading (day, wing, interday, etc).

Menggunakan mental accounting untuk keuntungan kita, maksudnya, kita bisa membedakan untung dari transaksi atau memang dari capital gain dari akun trading, dan menggunakan untung tersebut untuk konsumsi atau menanamnya kembali ke akun yang khusus untuk investasi di layanan broker yang khusus untuk investasi.

Kekurangan

Dengan memiliki akun broker lebih dari satu, terkadang kita bisa kehilangan fokus dan malah bikin pusing, hal lainnya adalah harus memelihara aplikasi lebih dari satu (mayoritas broker sudah dalam bentuk aplikasi).

Kekurangan lain yaitu, dana mengendap, broker biasanya menyimpan uang kita via RDN, dan dana yang disimpan di RDN, maka dana tersebut mengendap dan memang tidak berhak mendapatkan bunga, jadi usahakan dana tersebut tidak nganggur dan bisa lebih produktif dengan membelikan produk efek, atau bisa juga hanya mengisi RDN ini ketika hendak melakukan transaksi saja.

Beberapa broker menarik biaya untuk data yang kita gunakan, artinya, jika kita login ke aplikasi broker, selama kita menggunakan aplikasi tersebut, dan melihat data, trend, dan informasi lain mengenai emiten-emiten, informasi yang kita konsumsi itu dihitung oleh broker, dan menjadikan fee lebih mahal, ada biaya bulanan.

Skema

Untuk skema penempatan portofolio, dengan pemisahan berdasarkan tujuan investasi, beda tujuan beda broker, ambil contoh untuk reksa dana dengan skema,

  • Bareksa 100% reksa dana saham
  • Tanam Duit 100% reksa dana pasar uang.
  • Bibit 40% reksa dana pasar uang, 50% pendapatan tetap, 10% saham (uhuk kode referral tigvgn4)

Dengan menggunakan Skema ini, setidaknya untuk saya jadi lebih mudah untuk memutuskan ke agen mana saya harus login ketika ada uang yang bisa diinvestasikan, berdasarkan tujuan yang saya niatkan sebelumnya.

Begitupun untuk saham, Trima dan iPot jadi broker pilihan saya untuk transaksi saham.


Tags: ngaturduit, personal finance, literasi finansial, investasi, keuangan, menabung, saham, reksa dana, reksadana, obligasi

Related Posts