investasi, opini,

Semua memiliki agenda

Deden Fathurahman Deden Fathurahman Follow Jan 21, 2022 · 2 mins read

Didalam aktivitas finansial, semua pihak memiliki agenda, dan di investasi juga berlaku hal yang serupa, semua pihak memiliki kepentingan, dari mulai investor retail, investor institusi, bank, broker, semuanya memiliki agenda, meski ujungnya sama, bisa meningkatkan/mendapatkan performa dan tentunya keuntungan dari imbal hasil, tapi cara menempuhnya yang berbeda.

Baca: Meminimalisir risiko atau memaksimalkan imbal hasil?

Yang membedakan adalah untuk siapa imbal hasil dari kinerja tersebut?

Pasti pernah melihat para “ahli” dalam melakukan prediksi, pandangannya di TV atau di situs berita finansial, atau intitusi investasi, bank, menawarkan rangkuman, artikel, sinyal atau rekomendasi terhadap suatu produk investasi, dalam hal ini, kita sebagai investor perlu cermat, dan waspada.

Baca: Optimasi investasi berlebihan

Waspadai bahwa semua orang/institusi memiliki agenda, institusi investasi memiliki tujuan untuk menjual produknya, atau untuk menjual produk yang memiliki afiliasi dengannya (misalkan broker yang merekomendasikan saham sawit, sedangkan induk perusahaan broker tersebut memiliki usaha sawit, yang kebetulan saat itu sahamnya sedang loyo), atau outlet berita yang menjual ketakutan-ketakutan dan mimpi akan suatu hal dengan imbal hasil sekian puluh persen.

Semua punya agenda.

Hal yang sekarang menjadi primadona, dan dielukan oleh banyak pihak, tetapi, belum tentu tetap menjadi primadona dalam waktu ke depan.

Sebagai investor swakriya (D.I.Y), kita akan bergerak sendiri, dan memutuskan untuk menginvestasikan uang kita atas pertimbangan banyak faktor, dari kinerja, atau mungkin sederhananya karena kita suka dengan perusahaannya, dengan berinvestasi ini kita berharap memiliki imbal hasil dan terus compounding, tapi jangan lupa, compounding ini berlaku dua arah, berlaku untuk imbal hasil dan juga fee/biaya yang kita keluarkan.

Baca Menjadi Do It Yourself (D.I.Y) Investor (Investor Swakriya?)

Memiliki ketenangan dan juga kebebasan, yang tidak mudah terpengaruh oleh pihak lain memang sulit, faktor FOMO (fear of missing out) bisa menjadi pemicu kita untuk berbuat sesuatu, bisa aksi menjual buru-buru aset dalam keadaan rugi, atau membeli saat pasar memang sedang tinggi, ujungnya ya kita rugi, contoh saham ANTM ketika pandemi menjadi favorit, dan harganya naik sangat signifikan, sekarang tidak begitu, kebayang ada yang beli karena FOMO, dan beli di harga 3000an?

Kita investasi untuk jangka panjang, dan jika melihat pergerakan saham setiap hari, akan lebih banyak noise daripada signal, tetap tenang, dan terus berinvestasi, setidaknya itu yang terus saya sugestikan kepada diri saya sendiri.

Join Newsletter
Get the latest news right in your inbox. We never spam!
Deden Fathurahman
Written by Deden Fathurahman Follow
Writer at Seputar Finansial, engineer, love technology and geeking about finance, intertwine both world.
Read next

Berlubang

Baru-baru ini saya mendapatkan musibah, handphone yang saya gunakan, yang mana handphone ini memang agak sulit mendapatkannya, membel...

In opini, Sep 22, 2022