← back to home

Memecah alokasi dana ketika membangun dana darurat



Photo by Jessica Johnston on Unsplash

Dana darurat, secara definisi tidak banyak yang berubah, seperti namanya, dana ini digunakan diwaktu yang sangat diperlukan, tetapi untuk strateginya dalam membangun dana darurat, selalu ada hal yang bisa kita optimalkan, dan bisa kita melakukan sesuatu yang dirasa efektif dan efisien.

Dan di blog ini saya sepertinya saya bosan membahas dan menekankan pentingnya dana darurat ini, seperti dibahas di sini, di sini dan di sini.

Baca: Menyimpan dana darurat dengan conveyor belt saving

Dana darurat ini akan selalu berubah, seiring dengan dinamika hidup, dana darurat bujangan anak berbeda dengan yang sudah menikah, menikah tanpa anak dengan yang ada anak, yang ada anak balita dengan yang ada anak SD - SMA, akan berbeda juga, meski fondasinya tetap sama, sedia uang setidaknya 6 bulan gaji, jumlahnya yang akan berbeda tiap orang.

Meski ini target yang selalu bergerak seiring waktu, dan tidak ada cara yang paten seperti kumpulin sekali lalu lupakan, tapi setidaknya ada cara-cara, strategi-strategi yang bisa kita aplikasikan agar hidup bisa lebih tenang.

Strategi pemecahan alokasi dana darurat memiliki banyak variasi, setidaknya yang saya lakukan itu dengan memecah kedalam rekening tabungan dan di akun investasi, di instrumen yang lebih aman dan relatif tidak terpengaruh pasar.

Rekening Tabungan

Dana yang disimpan didalam rekening tabungan ini setidaknya 50% dari keseluruhan dana darurat, dan seiring waktu ditambah terus sesuai dengan kebutuhan seperti di atas.

Dalam rekening tabungan ini sebaiknya disimpan di dalam rekening bank yang memiliki bunga yang tinggi, saat ini saya simpan di Seabank, yang menawarkan bunga tinggi, 7% sampai desember 2021, mungkin selanjutnya akan turun lagi menjadi 4%.

Dengan imbal hasil dari bank relatif rendah daripada instrumen lain, tetapi memiliki lukuiditas yang tinggi, kita bisa ambil kapan saja kalo amit-amitnya diperlukan.

Akun investasi

Dana 50% yang lain, saya simpan dalam akun investasi, dan kebanyakan dalam bentuk reksa dana pasar uang 20%, dan atau reksa dana obligasi 30%, karena imbal yang ditawarkan bisa lebih besar dari bunga bank biasa, dan memungkinkan untuk terus bertambah.

Hal yang perlu diingat, dana yang kita investasikan dalam bentuk reksa dana, tidak bisa cair dengan cepat, karena perlu waktu dan juga hanya bisa dilakukan dalam hari kerja.

Memecah alokasi dana ini memang bukan hal yang baru, dan dengan memecah dana ini setidaknya ada alokasi yang bisa berkembang lebih cepat dari alokasi dana lainnya, yang bisa dilakukan selanjutnya adalah melakukan rebalancing, jika dirasa terlalu banyak uang cash di bank dan merasa lebih baik diinvestasikan ke dalam produk reksa dana, maka kita bisa selalu berkontribusi ke instrumen lain.

Setelah dana darurat yang kita kumpulkan itu dirasa cukup pada saat itu, kita bisa menginvestasikan dana yang ada ke dalam bentuk instrumen investasi lain seperti saham yang berpotensi memiliki imbal hasil yang lebih tinggi, tetapi juga memiliki risiko lebih tinggi.




Related Posts