personal finance,

Back to Basic, part 3 - Membuka akun broker dan memulai investasi produk efek

Ini merupakan artikel seri back to basic, merupakan percobaan dan dokumentasi saya dalam membahas dan meninjau ulang finansial saya sendiri, kali ini adalah membuka akun broker, ini membuka akses terhadap investor untuk berpartisipasi dalam dunia investasi

Deden Fathurahman Deden Fathurahman Follow Apr 13, 2022 ยท 4 mins read

Kesempatan kali ini, investasi di dalam bursa efek, yang mana untuk bisa melakukan investasi di produk efek memerlukan institusi yang bisa membantu kita dalam melakukan pembelian/penjualan produk investasi, biasanya disebut broker, dengan membuka akun broker, ketika membuka akun broker kita akan memiliki SID, Single Investor Identification, yang mana ini seperti KTP untuk investor, dan nantinya akan memiliki subrekening efek, yang nantinya bisa kita gunakan untuk keperluan investasi, melakukan transaksi di bursa efek, bisa untuk membeli saham, obligasi, reksa dana atau produk-produk investasi lain.

Baca: Cara memilih broker

Pembukaan akun broker bisa dengan sekuritas saham, atau juga bisa melalui APERD (agen penjual reksa dana).

Baca: Memiliki akun broker lebih dari satu?

Memulai

Pemilihan instrumen, karena untuk jadi investor itu tidak hanya mempersiapkan modal saja (kapital), tetapi juga emosi, perasaan, pikiran, dan biasanya manusia lebih menghindari risiko (risk averse) jika ada, jadi bisa dimulai dengan instrumen yang relatif aman, misalkan bisa dimulai dengan barrier entry-nya kecil, misalkan reksa dana, di sini bisa memilih reksa dana jenis pasar uang, atau juga reksa dana pendapatan tetap, dua jenis reksa dana ini bisa dibilang relatif aman, dan juga bisa membantu kita mengenal dunia investasi lebih jauh.

Baca: Mengenal apa itu SID, RDN, SRE, AKSes

Jika dirasa sudah nyaman dan kenal dengan instrumen tersebut, bisa mulai dengan instrumen lain yang agak sedikit lebih rumit dan berisiko.

Banyak instrumen investasi yang bisa dicoba untuk yang sudah mengenal dunia investasi, untuk yang memulai dengan reksa dana, bisa memulai dengan membeli reksa dana saham, yang mana ini risikonya lebih besar dan disarankan untuk investasi jangka panjang, setidaknya lebih dari 5 tahun.

Tips untuk reksa dana, bisa dicari produk reksa dana yang memiliki expense ratio yang kecil, atau manajemen fee yang kecil, dan juga memiliki Asset Under Management (AUM) yang besar, hal ini untuk meminimalisir risiko bubarnya produk reksa dana tersebut.

Seiring waktu, kita akan mengenal diri kita sendiri dan juga mulai mengetahui selera dan toleransi risiko yang kita miliki, dan kita bisa mencoba investasi di instrumen yang memiliki risiko lebih besar, tetapi dengan imbal hasil yang besar pula.

Risiko tinggi, biasanya memiliki imbal hasil tinggi pula

Untuk yang sudah mulai memiliki toleransi risiko tinggi, bisa mulai berkenalan dengan dunia bursa, bisa dengan saham atau ETF, saham saat ini masih menjadi instrumen yang bisa memiliki imbal hasil yang tinggi, tapi tentu saja dengan risiko yang tinggi, saham bisa turun sampai dengan 50-70% dari modal kapital yang kita punya, hal ini kembali ke pribadi masing-masing investor apakah bisa nahan mules kalo investasi kita drop sampai puluhan persen.

Baca: Memulai investasi saham?

Untuk instrumen lain seperti obligasi, barriernya menurut saya, agak tinggi, dan bisa repot untuk investor ritel umum, meski bisa beli di APERD atau bank, untuk pasar primer ini agak rumit, apalagi untuk pasar obligasi sekunder, untuk instrumen ini, saya lebih memilih untuk membeli obligasi yang sudah didalam produk reksa dana pendapatan tetap atau ETF yang isinya obligasi, misalkan XAFA, atau reksa dana pendapatan tetap, misalkan ABF.

Pemilihan broker

Pilihan untuk berinvestasi di pasar efek memang tidak lepas dari peran broker, yang fungsinya menghubungkan kita sebagai investor ritel dengan pasar bursa, semakin kita mengenal instrumen yang ada di bursa efek, semakin banyak ilmu yang bisa kita dapat, dan tentunya pilihan juga apakah kita hendak melakukan investasi secara aktif, atau secara pasif, semua memiliki trade-off sendiri-sendiri.

Baca: Investasi jangka pendek, dengan apa?

Jika aktif, berarti kita secara rutin melihat investasi kita, atau pasif, dengan kita menyerahkan kepada manajer investasi dengan membeli reksa dana atau ETF, dan biarkan manajer investasi yang membuat keputusan investasi terhadap instrumen apa atau saham apa yang hendak diinvestasikan.

Untuk pemilihan broker, saat ini sangat banyak broker dan fintech yang bisa memfasilitasi hal ini, dari mulai yang memiliki tampilan jadul atau yang modern, kita bisa coba membuat akun broker, yang nantinya kita akan memiliki SID (single investor ID), bisa coba lihat aplikasi-aplikasi fintech seperti Stockbit, Ajaib, Samuel sekuritas (STAR), Indopremier (IPOT), dan masih banyak lagi yang lain, biasanya kalau kita membuka playstore atau app store, jika kita pilih satu aplikasi investasi, nanti akan disajikan saran aplikasi yang memiliki kategori yang sama dengan aplikasi yang kita buka/install tersebut.

Join Newsletter
Get the latest news right in your inbox. We never spam!
Deden Fathurahman
Written by Deden Fathurahman Follow
Writer at Seputar Finansial, engineer, love technology and geeking about finance, intertwine both world.
Read next

Berlubang

Baru-baru ini saya mendapatkan musibah, handphone yang saya gunakan, yang mana handphone ini memang agak sulit mendapatkannya, membel...

In opini, Sep 22, 2022