← back to home

Mari kita coba bicara tentang hutang



Image by Andrés Gómez on Unsplash

Tidak semua orang bisa lepas dari hutang, jika di antara pembaca tidak memiliki hutang, itu keren, hebat!. dan jujur di sini, saya pun masih memiliki hutang, dalam hal ini bentuk cicilan, rumah dan mobil, dan alhamdulillah, 2 cicilan tersebut sebentar lagi lunas, tapi tetap, itu merupakan hutang, yg setiap bulan harus kita keluarkan pembayarannya.

Untungnya saya “hanya” memiliki 2 hutang tersebut, secara pribadi, dan masih manageable, dan 2 hal yang menurut saya bermanfaat, tempat berteduh dan transportasi yang mengantarkan saya dari titik A ke B.

Jenis Hutang

Hutang secara garis besar terbagi dua, 1) hutang produktif dan 2) hutang konsumtif, dari namanya kita bisa ambil kesimpulan untuk apa jenis-jenis hutang tersebut.

Hutang (baca: cicilan) atas rumah saya, bisa dibilang hutang produktif, hutang yang digunakan untuk membeli/mendapatkan aset, berupa properti, yang menurut sejarah relatif jarang turun (yak, terkadang ada kondisi yang bisa menjadi turun), dan cenderung naik (apresiasi, ini juga tidak absolut).

Sedangkan mobil, bisa disebut hutang konsumtif, dan sifat dari mobil (atau alat elektronik) selalu berkurang nilainya, depresiasi, dari tahun ke tahun secara nilai akan terus berkurang.

Dan masih banyak lagi contoh lain dari jenis hutang ini, ada yang berhutang untuk menambah dana usaha, dan ada juga yang berhutang demi untuk menunjang gaya hidup.

Berapa sebaiknya besaran hutang?

Untuk perseorangan, menurut banyak ahli, hutang yang kita miliki jangan sampai melebihi 30% dari pendapatan kita, agar hutang bisa lebih manageable, dan kita masih bisa bernafas, misal gaji 10 juta, hutang tidak lebih besar dari 3juta yang harus dibayar perbulannya.

Pepatah populer mengatakan, jangan lebih besar pasak daripada tiang.

Jika memang dirasa belum mampu, sebisa mungkin jangan sampai harus berhutang, gunakan dan maksimalkan yang ada, tapi jangan juga memiliki mental “miskin” dengan berpikiran “saya tidak mungkin mampu”, karena itu justru akan menghalangi kita untuk mencapai hal lebih.

Membeli PS5 dengan berhutang, tanpa ada fondasi finansial yang kuat, perilaku gimana ntar aja, atau, mengambil dari dana darurat yang dipikirnya bisa diambil sedikit dan berpikir “ah nanti tinggal diisi lagi”, dan pembenaran-pembenaran lainnya demi membeli barang konsumtif yang malah mengorbankan finansial kita, secara langsung dan tidak langsung.

Bagaimana pandangan kita terhadap uang juga berpengaruh banyak pada perilaku keuangan yang kita miliki.

Baca: Membangun pola pikir positif terhadap uang

Dan tentunya banyak hal lain (hutang) yang ditidak dibahas di sini, seperti hutang kartu kredit, kredit tanpa agunan (KTA), dan lainnya, memang terkadang ada yang menggunakan hutang tersebut untuk bantuan usaha, tapi sepertinya tidak akan bertahan lama, karena bunga yang ditawarkan juga sangat tinggi.

Baca:Berhutang untuk menunjang gaya hidup

Bukan menghakimi

Artikel ini tidak untuk menghakimi atau memandang buruk terhadap yang memiliki hutang, selain saya sendiri memilikinya, dan banyak faktor yang membuat orang memutuskan meminjam uang, dan itu hal yang normal, yang dicoba ditekankan adalah digunakan untuk apa hutang tersebut, jika digunakan untuk konsumtif, foya-foya, gaya hidup, seperti tinggal menunggu masalah keuangan muncul dikemudian hari.

Selain kekayaan, aset yang perlu di-manage, hutangpun perlu di-manage, bagaimana cara mengaturnya agar lebih baik, dan tidak sampai mengganggu arus keuangan, apalagi kestabilan kehidupan dan melunasinya.


Tags: ngaturduit, personal finance, literasi finansial, hutang

Related Posts