← back to home

Berinvestasi saham dengan (atau untuk mendapatkan) dividen



Photo by Adolfo Félix via Unsplash

Salah satu keunggulan dalam berinvestasi selain capital gain (harga yang naik dari harga modal), adalah dividen, ini berlaku umum, berinvestasi dalam bentuk instrumen apapun, bisa itu memiliki usaha sendiri, atau urunan dalam membuka usaha, ataupun investasi di instrumen seperti P2P lending, saham, ETF, reksa dana dan lainnya.

Baca: Investasi Dengan ETF

Secara spesifik yang akan dibahas di sini investasi di saham.

Tujuan orang dalam melakukan investasi di saham bisa berbeda-beda, tergantung jangka waktu, ada yang mencari selisih harga, kemudian menjualnya, dan mendapatkan untung dari selisih beli dan jual (trading), atau yang membeli dengan tujuan investasi jangka panjang, selain mendapatkan capital gain (harga naik dari harga rata-rata beli) juga bisa mendapatkan dividen.

Sederhananya, dividen adalah bagi hasil dari laba bersih yang didapat perusahaan ketika menjalankan usahanya, dan biasanya terkait dengan kinerja fiskal tahun sebelumnya.

Tidak semua perusahaan memberikan dividen kepada pemegang saham, dan tidak juga setiap tahun memberikan dividen, hal tersebut kembali kepada keputusan perusahaan (RUPS).

Dividen untuk pendapatan (income)

Untuk investor yang sengaja memburu dividen sebagai income atau untuk suplemen income, dividen memang bisa digunakan untuk itu, tetapi ini juga tergantung dari jumlah saham yang dimiliki atas emiten tersebut, semakin banyak lembar saham yang dimiliki, semakin banyak juga potensi dividen yang bisa didapatkan.

Tapi perlu diingat lagi, dividen tidak selalu dibagikan setiap tahun atau setiap periodenya (ada yang setahun 1 kali atau lebih), dan setiap periode pembagian dividen, nilainya tidak selalu naik nilainya terkadang turun, relatif ke kinerja perusahaan tersebut.

Saham sebagai bentuk income investing, misalkan seperti yang dilakukan oleh Le kong heng, investor kawakan, investasi saham beliau sudah bisa menjadi income utama, karena jumlahnya sangat besar untuk orang kebanyakan, bahkan beliau juga menginvestasikan kembali dividen yang didapat ke perusahaan lain.

Dividen untuk diinvestasikan kembali

Ada juga yang mendapatkan dividen, untuk kemudian diinvestasikan lagi, istilah kerennya DRIP (Dividend ReInvestment Program), dan ini kembali tergantung dari jumlah saham yang kita punya.

Hal ini bisa sangat berguna, karena kita mendapatkan “uang gratis” yang bisa kita investasikan kembali kedalam saham lagi, atau mungkin ke instrumen lain.

Cara mendapatkan dividen saham

Untuk mendapatkan dividen dari saham, ya tentunya membeli sahamnya, tapi pastinya tidak sembarang membeli saham, ada hal yang perlu diperhitungkan dalam memilih emiten yang bisa kita jadikan acuan ketika hendak membelinya.

Membuka broker

Iya, pastinya kita tidak bisa investasi dengan membeli saham di sembarang tempat, silakan membuka akun broker yang sesuai dengan selera secara interface, biaya, kemudahan dalam membuka akunnya, kalau bisa registrasi online, silakan buka.

Silakan buka artikel yang pernah saya tulis mengenai broker (link mungkin mengandung referral jika ada).

Kriteria pemilihan

Nah, saatnya kita beli saham sesudah membuka akun broker, untuk memilih saham apa yang bisa dijadikan andalan dividen, kriterianya bisa berbeda-beda setiap orang, tapi ada beberapa acuan umum yang bisa digunakan, dan setidaknya ini yang saya gunakan sebagai acuan (catatan: ini bukan saran investasi ya!).

Ini pola yang saya terapkan sendiri, kadang kebuktian, kadang tidak, apalagi semenjak pandemi ini banyak yang tidak pasti, dan banyak juga perusahaan yang mengalihkan dividen untuk menutupi operasional, sehingga tidak perlu sampai merumahkan karyawan, atau tidak banyak merumahkan.

Sekali lagi, ini kriteria saya, bisa jadi berbeda dengan orang lain dan ini bukan saran investasi!

  1. Earning Per Share (EPS)

    Berapa hasil nilai sekarang perlembar sahamnya

  2. Dividen Growth Rate (DGR)

    Persentase pertumbuhan dividen dari perusahaan yang dicapai dalam satu waktu.

  3. Dividend Per Share (DPS)

    Besarnya dividen yang bagikan, relatif terhadap jumlah saham yang beredar.

  4. Return on Assets (ROA)

    Laba yang didapat perusahan dalam menjalankan bisnisnya dibandingkan dengan aset yang dimiliki, lebih besar lebih baik.

Disini saya tidak akan membahas secara detail kriteria di atas, karena saya sendiri kadang pusing (hehehe…), dan bukan ahlinya juga, namun poin di atas cukup buat saya sebagai skrining awal.

Banyak artikel yang membahas ini lebih detil, silakan google atau bisa kunjungi investopedia atau website sejenis.

Kriteria di atas bukan suatu ukuran kesehatan dari suatu perusahaan, atau kinerja mereka di masa depan, selalu melakukan riset terhadap emiten-emiten yang akan dibeli sahamnya ya!.

Masih ada kriteria lain sih, tapi setidaknya kriteria di atas ini yang saya lihat duluan, kalau menarik, maka akan dilakukan investigasi lebih lanjut terhadap emiten tersebut.

Apakah cukup?

Tentu saja tidak ada yang tetap dan pasti di investasi, terutama saham, perusahaan bisa naik turun kinerjanya, rugi untung, selera pasar berubah dan karena semuanya tidak ada yang pasti, maka imbal hasilnya juga bisa bervariasi tiap perusahaan.

Selalu diingat, kalau emiten memberikan imbal hasil dividen yang besar, bukan satu parameter yang menunjukkan bahwa perusahaan itu sehat (ada kasus dimana perusahaan berhutang untuk membauar dividen), dan juga berlaku sebaliknya, jika emiten memberikan dividen kecil atau tidak membagikan dividen sama sekali, bukan berarti perusahaan itu sedang dalam masalah, karena bisa jadi laba bersih yang didapat hendak diinvestasikan lagi ke perusahaan (retained earnings) supaya perusahaan itu bisa terus berkembang.

Mengumpulkan saham yang membayar dividen, tetapi di sisi lain tetap mengawasi dan juga melihat perkembangan perusahaan yang sahamnya kita miliki.

Berinvestasi dengan dividen merupakan hal yang menarik, kita bisa berinvestasi dengan uang “gratis” yang diberikan oleh perusahaan dan juga bisa mendapatkan “gaji” dari uang yang kita investasikan




Related Posts