← back to home

Bukan hanya sekadar angka



Mika Baumeister on Unsplash

Investasi, ngatur uang, menabung, tidak melulu tentang angka, bukan hanya tentang berapa dana capital yang kita investasikan, angka berapa persen imbal hasil yang bisa kita dapatkan dari capital yang diinvestasikan, plus atau minus? atau berapa jumlah budget untuk ini itu.

Baca: Memilih Manajer Investasi untuk produk reksa dana dan ETF

Sebagai investor ritel, pribadi, investor swakriya (D.I.Y), dana yang kita investasikan adalah uang kita sendiri, uang yang didapat dari income kita, dari hasil kita bekerja, yang mana hal ini tidak gratis, ada waktu dan keterampilan yang kita tukar dengan uang, setuju atau tidak, tapi sebagian besar kita, tujuan kita bekerja salah satunya untuk mendapatkan uang.

Dan uang tersebut datang dengan keterikatan emosi, pasti sering atau setidaknya pernah melihat orang yang stress karena dana yang diinvestasikan tidak kunjung untung, atau mungkin rugi dan turun nilainya.

Karena dalam investasi, angka memiliki peran yang lebih kecil dibanding dengan efek psikologis di diri kita sebagai investor.

Baca: Mengatur uang dengan campuran perasaan dan emosi

Kita investor, kita memiliki rencana, dan dana yang kita investasikan tersebut, rencananya untuk nanti biaya anak sekolah, dan kalau saat ini investasinya sedang turun, ada perasaan mual, mungkin ada penyesalan, atau perasaan lainnya, dan perasaan itu adalah nyata, tapi tidak bisa kita kuantifikasi dalam bentuk angka, tidak ada metrik yang bisa mengukur itu, nilai emosional bisa sangat tinggi dan ini bisa mempengaruhi perasaan, mood, kita sepanjang waktu.

Memiliki kematangan emosi sebagai penjagaan yang cukup, bisa memiliki efek lebih besar daripada dana yang besar, jika nilai emosional kita bisa dipengaruhi oleh nilai investasi yang kecil, dan nilai emosional ini juga berlaku dua arah, bagaimana jika mendapatkan nilai imbal hasil investasi lebih besar? untung? seperti apakah reaksi kita? karena perasaan senang portofolio investasi kita naik, biasanya hanya berlaku sesaat, dan selanjutnya akan mengharapkan kinerja terus naik, dan ekspektasi ini bisa menjadi beban emosi juga.

Baca: Membuat ruang untuk kesalahan, dan mempersiapkan ruang untuk keuntungan

Selain kematangan emosi, cara yang paling mudah, jangan lihat portofolio terus, hal ini bisa membuat kita malah membuat keputusan yang mungkin akan kita sesali nanti.




Related Posts