← back to home

Mengatur uang dengan campuran perasaan dan emosi



Photo by Lance Anderson via Unsplash

Kalo kita mau jujur sama diri sendiri, kemungkinan sebagian besar kita akan bilang bahwa mengatur uang itu pekerjaan membosankan, bahkan tidak menyenangkan, saya juga sama, mengatur uang seperti membuat budget, melakukan pencatatan atas pengeluaran, pemasukan, dan melakukan perhitungan-perhitungan bisa menjemukan.

Baca: Mencoba untuk bisa selalu konsisten pada rencana dan target tujuan keuangan

Seperti olah raga, makan makanan sehat, kayaknya hampir semua orang tau itu penting, cuman gak semua orang mau melakukannya, ya, kan? iya, saya termasuk.

Tidak hanya logika, tapi manusia cenderung banyak menggunakan perasaan hampir dalam semua langkah dan keputusan, dan karena bagaimanapun, hampir semua aspek kehidupan ini ada uang terlibat, secara langsung atau tidak, manusia juga menggunakan perasaan dalam hal mengatur keuangan.

Baca: Conveyor Belt Saving

Kembali ke mengatur uang, berpikir jernih dalam mengatur uang, untuk pengeluaran, bisa jadi hal yang sulit, tergantung pada keadaan kita ketika pengambilan keputusan saat itu, seperti apa keadaan perasaan kita, mood dan emosi kita. Perasaan, mood dan emosi bisa membuat pengeluarkan kita jadi tidak terkendali.

Pernah mengalami hal-hal seperti ini? “ah, nanti akhir bulan diganti uang tabungan ini”, “hmm kayaknya cuman diambil sekian tidak akan kerasa, saya akan terus menabung untuk menggantinyanya”, “blah, YOLO, kapan lagi!”.

Baca: Hubungan pola asuh terhadap perilaku keuangan

Karena terkadang sulit memisahkan emosi dan perasaan dalam mengatur uang, yang bisa kita lakukan hanya meminimalisir agar emosi dan perasaan tidak mempengaruhi keputusan untuk pengeluaran, menabung dan menginvestasikan uang yang kita miliki.

Otomatisasi menjadi hal yang penting, uang langsung otomatis dipisahkan dan dimasukkan ke dalam pos yang kita sudah definisikan, untuk tabungan, investasi, berbagi. Hal ini agar kita tidak dengan mudah mengakses uang tersebut, apalagi kalau kita sering impulsif, bisa berbahaya, karena uang bisa keluar dengan mudah tanpa mikir sama sekali, dengan melakukan otomasi, setidaknya kita mengeliminasi pengambilan keputusan yang bisa dipengaruhi oleh perasaan dan emosi.

Baca: Menyimpan dana darurat, conveyor belt saving, update Juni 2021

Mengatur uang dengan perasaan dan emosi tidak melulu jelek juga, bisa kita jadikan keuntungan untuk kita, misalkan untuk mengatur investasi pensiun nanti, perasaan dan emosi bisa kita gunakan, kita coba bayangkan kalo nanti kita tidak punya dana pensiun?, kita tidak punya pegangan untuk hidup kita nanti, apakah kita akan sedih? bagaimana dengan pasangan kita? apa kita sanggup terus bekerja di hari tua nanti? (jika punya anak) apakah kita akan terus mengandalkan anak yang akan mengurus kita?

Pertanyaan-pertanyaan ini lumayan “mengganggu” di saya.

Karenanya sebisa mungkin untuk urusan pensiun nanti yang jangka panjang, dan sekolah anak (jangka pendek), sebisa mungkin dihadapi saat ini, supaya tidak perlu ada emosi (atau bahkan penyesalan) yang terlibat ketika harinya datang nanti, untuk itulah dikerjakan saat sekarang, untuk kepentingan nanti.




Related Posts