personal finance,

Tujuan keuangan berbeda

Manusia memiliki rencana untuk mencapai tujuan-tujuannya, terutama keuangan, dan tujuan keuangan bisa berbeda-beda setiap orang, bahkan suami dan istripun bisa berbeda.

Deden Fathurahman Deden Fathurahman Follow Jun 23, 2022 · 2 mins read

Artikel-artikel keuangan yang banyak ditulis orang di internet, atau yang ada di blog seputar finansial ini, hanya bisa menyentuh permukaannya saja, hanya bisa berkenaan dengan yang sifatnya umum saja, untuk yang khusus terutama tujuan keuangan masing-masing orang, hal ini bisa berbeda.

karena tujuan, jangka waktu, keadaan saat ini, ekonomi atau keadaan psikologis bisa berbeda, didikan kita dikeluarga, di lingkungan sekitar bisa mempengaruhi pandangan kita terhadap uang.

Baca: Hubungan pola asuh terhadap perilaku keuangan

Atas ini, waktu yang bisa ditempuh untuk tujuan keuangan masing-masing individu menjadi berbeda pula, titik permulaan pun berbeda-beda, pencapaian berbeda pula.

Baca: Buku Keuangan Berbasis Perilaku

Untuk yang memulai umur 18 tahun, berbeda dengan yang memulai umur 28, atau 38, dengan adanya kondisi yang berbeda, ada/tidak ada anak, pekerjaan, domisili dan lainnya.

Baca: Nanti dengan uang … yang akan datang, pasti akan dibayar …

Karena hal-hal inilah yang menjadikan cara mengatur keuangan, investasi, tujuan keuangan berbeda, tidak akan ada satu formula yang bisa digunakan dan berlaku sama untuk semua orang.

Tujuan keuangan antara suami dan istri bisa berbeda, dan pandangan terhadap uang bisa berbeda, bahkan adik kakak pun bisa berbeda.

Baca: Membangun pola pikir positif terhadap uang

Tetapi kita bisa ambil hal-hal yang bersifat umum, yang mungkin bisa berlaku bagi sebagian orang, seperti menabung, sifatnya umum, perkara dimana sebaiknya dana itu simpan di bank apa, itu kembali lagi ke masing-masing orang, nyamannya di mana, misalkan untuk saya sendiri, saya nyaman dan terbiasa memiliki banyak akun bank, khususnya bank digital, tetapi istri saya tidak, dia tidak mau memiliki rekening bank lebih dari 2, tidak efektif dan malah cenderung tidak efisien menurutnya, jadi cukup pegang bank BCA untuk konsumsi dan bank Jago untuk tabungan.

Hal itu normal, kembali ke prefensi pribadi masing-masing orang, kita tidak mau juga malah jadi pusing untuk urusan bank.

Hal ini juga berlaku untuk instrumen dan produk investasi, ada yang nyaman dengan volatilitas saham, ada yang tidak, dan memilih instrumen investasi yang hitungannya lebih aman dari keadaan pasar.

Baca: Mencoba untuk bisa selalu konsisten pada rencana dan target tujuan keuangan

Sekarang tinggal kita atur ekspektasi dari aset investasi, dan tentunya dengan kondisi, jika investasinya low risk, maka cenderung tidak high gain, dan akan butuh waktu lebih lama dibanding dengan yang high risk, yang biasanya lebih high gain, dan menerima imbal hasil yang lebih dari aset dengan low risk.

Baca: Hal yang bisa kita kontrol ketika berinvestasi (saham, etf, atau reksa dana)

Karena hidup tidak hanya melulu mengenai menabung dan investasi, seperti kata John Lennon, hidup terus berjalan selagi kita merencanakan masa depan, menikmati hidup juga penting, serta tahu batasannya.

Kutipan dari Morgan Housel di buku Psychology of Money, mengenai finansial.

Financial success is not a hard science. It’s a soft skill, where how you behave is more important than what you know.

Tujuan keuangan tidak didefinisikan dengan menggunakan bank apa, atau harus investasi dengan saham, reksa dana, emas, dan lain-lain, tapi bagaimana orang tersebut menjalani hidupnya dan juga pandangan dan berperilaku terhadap uang.

Join Newsletter
Get the latest news right in your inbox. We never spam!
Deden Fathurahman
Written by Deden Fathurahman Follow
Writer at Seputar Finansial, engineer, love technology and geeking about finance, intertwine both world.
Read next

Berlubang

Baru-baru ini saya mendapatkan musibah, handphone yang saya gunakan, yang mana handphone ini memang agak sulit mendapatkannya, membel...

In opini, Sep 22, 2022